IHSG Anjlok 5%, BI Bekukan Sementara Perdagangan Saham – Apa yang Terjadi?

Estimated read time 5 min read

Pasar saham Indonesia baru saja mengalami guncangan besar. Pada 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 5%, membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah darurat dengan menghentikan perdagangan sementara (trade halt). Keputusan ini menjadi perhatian besar, karena kejadian seperti ini jarang terjadi.

Apa penyebab kejatuhan IHSG kali ini? Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dan investor? Apa langkah pemerintah selanjutnya untuk mengatasi krisis ini? Artikel ini akan membahas semuanya dengan gaya bahasa santai agar lebih mudah dipahami.

Apa Itu Trade Halt dan Kenapa Dilakukan?

Pengertian Trade Halt

Trade halt adalah penghentian sementara perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kondisi tertentu. Tujuannya adalah untuk menghindari kepanikan pasar dan memberikan waktu bagi investor untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Sejak 11 Maret 2025, BEI menerapkan aturan baru: jika IHSG turun lebih dari 5% dalam satu hari, maka perdagangan saham akan dihentikan sementara.

Sejarah Trade Halt di Indonesia

Kebijakan trade halt ini sebelumnya hanya diberlakukan jika IHSG turun lebih dari 10% dalam sehari. Namun, pengalaman di tahun 2020 saat pandemi COVID-19 membuat pemerintah memperketat aturan ini. Pada 17-18 Maret 2020, IHSG anjlok drastis, dan bursa harus dihentikan beberapa kali.

Keputusan menurunkan batas trade halt menjadi 5% diambil untuk mencegah kejadian serupa. Namun, siapa sangka, tepat lima tahun kemudian, pada 18 Maret 2025, kejadian ini terulang kembali!


Apa yang Menyebabkan IHSG Jatuh 5%?

1. Saham Big Bank dan Konglomerat Rontok

Penurunan IHSG kali ini dipicu oleh kejatuhan saham perbankan besar dan perusahaan konglomerasi. Beberapa bank besar mengalami aksi jual besar-besaran oleh investor asing, karena valuasinya sudah dianggap terlalu tinggi.

BACA JUGA  Beli Gas LPG 3 Kg Wajib Pakai KTP? Masyarakat bilang Makin Susah!

2. Investor Asing Kabur ke Obligasi

Pada hari yang sama, pemerintah Indonesia melelang Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp26 triliun. Karena imbal hasil (yield) obligasi naik, banyak investor asing yang lebih memilih pindah ke obligasi dibandingkan saham.

3. Rumor Sri Mulyani Mundur

Salah satu faktor terbesar yang memicu kepanikan pasar adalah isu mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sosoknya yang sudah lama dikenal dan dipercaya di dunia keuangan global membuat investor cemas. Ketidakpastian ini semakin menekan IHSG.

“Investor itu nggak suka ketidakpastian. Kalau Menteri Keuangannya mundur, siapa penggantinya? Apa kebijakan ekonominya nanti?”

Ketakutan inilah yang membuat investor semakin agresif melepas saham.

4. Sentimen Global yang Buruk

Di luar faktor domestik, pasar saham global juga sedang dalam kondisi tidak menentu. Di Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengeluarkan kebijakan ekonomi yang berubah-ubah, yang membuat investor di seluruh dunia menjadi lebih hati-hati.

Ketidakpastian ini ikut mempengaruhi sentimen investor di Indonesia.


Apa yang Terjadi Saat Perdagangan Dibekukan?

Perdagangan di BEI dihentikan sementara mulai pukul 11:19 WIB hingga 11:49 WIB. Dalam waktu 30 menit ini, ada beberapa hal yang terjadi:

  1. Investor ritel panik dan banyak yang berusaha menjual sahamnya ketika perdagangan dibuka kembali.
  2. Alih-alih membaik, IHSG malah turun lebih dalam menjadi 6,12% pada siang hari.
  3. Para investor besar masih wait and see, menunggu kepastian lebih lanjut dari pemerintah.

Kejadian ini membuktikan bahwa pasar saham sangat sensitif terhadap berita dan sentimen global.


Bagaimana Dampaknya bagi Investor dan Ekonomi?

1. Dampak bagi Investor Saham

Bagi yang punya saham, tentu saja ini adalah hari yang buruk. Harga saham turun drastis, dan banyak investor ritel mengalami kerugian besar.

BACA JUGA  Saham Big Bank Indonesia Kompak Anjlok Beberapa Minggu terakhir 06/06/2024

Namun, bagi investor jangka panjang, ini bisa menjadi peluang emas untuk membeli saham dengan harga lebih murah.

2. Dampak bagi Perekonomian

Secara ekonomi, kejatuhan IHSG bisa berdampak pada beberapa hal:

  • Daya beli masyarakat bisa terpengaruh jika banyak investor mengalami kerugian.
  • Kepercayaan investor asing terhadap Indonesia bisa menurun jika kondisi ini terus berlanjut.
  • Jika pemerintah gagal menangani situasi ini, nilai tukar rupiah juga bisa ikut melemah.

Tentu saja, pemerintah harus segera mengambil langkah untuk meredam kepanikan ini.


Bagaimana Prediksi IHSG ke Depan?

Menurut para analis, kondisi saat ini bukanlah yang terburuk dalam sejarah IHSG. Saat pandemi 2020, IHSG bahkan turun lebih dalam lagi, tetapi berhasil pulih dalam waktu beberapa bulan.

Beberapa faktor yang akan menentukan apakah IHSG bisa segera pulih:

  1. Kebijakan pemerintah dalam menangani isu ekonomi
  2. Keputusan Bank Indonesia mengenai suku bunga
  3. Perkembangan kondisi global, terutama di Amerika Serikat
  4. Kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia

Jika kondisi membaik, ada kemungkinan IHSG akan pulih dalam 2-3 bulan ke depan. Namun, jika ketidakpastian terus berlanjut, pemulihan bisa lebih lama.


Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Bagi investor, menghadapi kondisi seperti ini perlu strategi yang tepat. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

1. Jangan Panik, Tapi Juga Jangan Nekat

Jika kamu memiliki saham dan melihat harga turun, jangan langsung menjual dalam kepanikan. Tapi juga, jangan langsung membeli tanpa analisis yang matang.

2. Hindari Saham Gorengan

Saham gorengan adalah saham yang harganya bisa naik-turun dengan cepat tanpa alasan yang jelas. Di saat IHSG anjlok, saham-saham seperti ini bisa sangat berbahaya karena bisa jatuh tanpa bisa pulih kembali.

BACA JUGA  Revolusi Nikel Indonesia: Mengapa Dunia Mulai Bergantung pada Pasokan Nikel RI?

3. Gunakan Uang Dingin

Investasi saham bukan untuk uang yang akan dipakai dalam waktu dekat. Pastikan hanya menggunakan uang yang tidak mengganggu kebutuhan hidup sehari-hari.


Tabel: Perbandingan Kejatuhan IHSG dengan Tahun-Tahun Sebelumnya

TahunTanggalPenurunan IHSGPenyebab UtamaPemulihan (Estimasi)
202017-18 Maret-10%Pandemi COVID-196-9 bulan
202321 Februari-3,8%Krisis global4-5 bulan
202518 Maret-6,12%Trade Halt, Investor Asing Kabur???

Anjloknya IHSG sebesar 5% pada 18 Maret 2025 menjadi pengingat bahwa pasar saham itu penuh ketidakpastian. Beberapa faktor utama yang menyebabkan kejatuhan ini adalah:

  • Penurunan saham big bank dan konglomerasi
  • Investor asing menarik dana ke obligasi
  • Rumor mundurnya Sri Mulyani
  • Ketidakpastian global akibat kebijakan Donald Trump

Meski begitu, IHSG selalu mengalami siklus naik dan turun, dan investor harus lebih bijak dalam menyikapi situasi seperti ini. Yang penting, tetap tenang, jangan panik, dan selalu lakukan analisis sebelum mengambil keputusan investasi. 🚀

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours